Mimpi di Negeri Korupsi

Puisi Normantis

mimpi di negeri korupsi

Ayahku bercerita,
ada sebuah negeri
yang senang berbagi.
Sebakul cabai
dimakan ramai-ramai,
sama-sama kepedasan
muka mereka sama merah,
saat mulai mulas
mereka berbagi jamban.

Ada pula sebuah negeri
yang senang menyanyi.
Lagu rindu
terlantun suara merdu,
yang fals tetap boleh berlagu
karena semua toh pernah keliru.

Mereka tidak terdidik secara formal,
namun bukan berarti tidak intelektual.
Mereka belajar dari leluri
tentang hidup harus mengutamakan berbagi.

Usai bercerita
Ayah mengajakku
memandang negeriku
yang katanya kaya sedari dulu.

Kulihat koruptor sedang membagi-bagi hasil korupsi.
Dibelikannya rumah untuk istri keduanya.
“Nak, itu jatah makan kita pagi dan siang ini.”

Dibelikannya mobil mewah untuk selingkuhannya.
“Nak, itu jatah makan kita malam ini.”

Dibelikannya liontin dan gelang permata pada istri kerabatnya.
“Nak, itu jatahmu untuk bersekolah.”

Dibagikan sisanya pada rekan koalisi.
“Nak, itu jatah membeli kuburanku nanti.”

Aku menangis,
Ayah memelukku, erat.
“Nak, mari kita berbagi tangis dan mimpi.
Karena tak ada lagi cabai yang…

View original post 19 more words

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s