Ketika Saya Bercita-cita

Puisi Normantis

???????????????????????????????KETIKA SAYA BERCITA-CITA 

Dulu cita-cita saya menjadi dokter.
Sayang, pendidikan kedokteran mahal.
Dan beasiswa hanya ada bagi yang pintar akademisnya.
Nilai saya jeblok semua di bidang eksakta:
Biologi, Matematika, Kimia, dan Fisika.

Saya hanya lihai di pelajaran bahasa,
sesuatu yang dipandang teman-teman sebelah mata,
namun tak ada yang nilainya setinggi saya,
padahal itu bahasa Indonesia,
bahasa yang kita pakai
saat marah, menangis, hingga tertawa.

Lebih mudah untuk bekerja di bidang yang kita suka.
Saya suka bahasa,
bahasa suka saya,
kita sama-sama suka,
ya sudah, kita jadian saja.

Saya menjadi penulis,
bahasa membantu saya
menuangkan ide
menjadi kata-kata.
Kami pasangan yang kompak.

Ternyata butiran kata-kata
bagaikan butiran obat.
Obat menjadi penyembuh
bila pas dosisnya,
tepat penggunaannya.
Obat menjadi racun
bila salah dosisnya,
dan salah penggunaannya.

Bentuk rangkaian kata
bisa sesuka kita.
Mau tablet, pil, sirup, salep, hingga puyer atau koyo.
Yang penting mujarab.

Dan pembaca harus memposisikan diri sebagai pasien
atau…

View original post 103 more words

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s